Blognya Seorang Pelajar || Penyedia Berbagai Jenis Cerpen

Kota Kecil Yang Hilang

Kota Kecil Yang Hilang

 Cerpen Karangan :Santi Wulandari

Akhirnya liburan pun telah tiba, aku dan teman-temanku mempersiapkan untuk liburan di suatu pulau, mungkin pulau itu tidak terlalu besar, namun pulau itu terlihat sangat indah, pulau itu agak terpencil, tapi tidak masalah yang penting aku dan temanku bisa refreshing disana, supaya otak ini bisa fresh kembali setelah selesai melakukan ulangan akhir ini.

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang, akhirnya aku dan temanku bergegas segera menuju pulau yang dimaksud, 5 jam sudah kita menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya sampai juga di sebuah pulau, saat kita sampai di sana, perasaan lelah, cape, semua terbayar sudah oleh pemandangan yang sangat menakjubkan.

“dek, bapak akan kembali ke pulau ini sore nanti, kalian bersenang senang-lah dulu di tempat ini, nanti sore sekitar jam 5 bapak akan jemput kalian di tempat ini, tapi selama kalian di sini, kalian harus menjaga ucapan kalian, jangan mengatakan kata-kata yang kasar” ujar bapak pemilik perahu sembari menasihati kita semua.
“baik pak, kami akan tunggu di sini jam 5 tepat” ujar yudana
“baiklah, sekarang bapak pulang dulu kalian berhati-hatilah disini” ujar bapak itu

Tak lama kami bersenang-senang, kirana merasakan ada hal yang berbeda di pulau itu, ia merasakan keheningan, tak seperti saat pertama ia menginjakan kaki di pulau nan indah ini, aku pun merasakan hal yang sama seperti kirana, entah mengapa, padahal awalnya kami merasa baik-baik saja, tapi mengapa sepertinya ada yang berbeda di pulau ini.
“guys, aku ngerasa kok ada yang aneh ya di pulau ini” ujar kirana yang sangat ketakutan
“aneh gimana? Dari tadi aku gak ngerasain apa-apa kok, kamu tenang aja deh, sore nanti kita kan pulang, gini aja sekarang kita cari makanan di pulau ini, siapa tau ada kelapa muda di pulau ini” ujar yudana sambil menenangkan kirana

Akhirnya kami memutuskan untuk mencari kelapa muda, semoga aja ketemu, tapi dari tadi kita menyusuri pulau ini, kenapa yang ada hanya semak-semak belukar dan pepohonan yang sangat tinggi, tak ada satu pun pohon kelapa yang kami lewati. Padahal seharusnya ada beberapa pohon kelapa yang bisa kami ambil kelapanya, tapi ya sudahlah, bentar lagi juga sore, kita kan akan pulang ke kota.

Kita semua memutuskan untuk menyudahi mencari kelapa muda karena hari telah menunjukan pukul 4 sore, kita harus secepatnya kembali menuju tempat yang tadi. Tetapi… kenapa kita belum mendapatkan jalan keluar dari pulau ini, apa mungkin kita tersesat? tapi mana mungkin, kita kan punya kompas untuk menunjuk arah, masa tersesat sih, hari sudah semakin gelap, semua mengambil senter untuk penerangan, karena kita sudah tak bisa melihat jalan yang sudah cukup gelap. Kami terus berjalan menyusuri jalanan di pulau ini, tak berapa lama kita menemukan sebuah rumah yang sudah tua, kita semua memutuskan untuk bersinggah di tempat itu, mungkin itu rumah nelayan yang ada di pulau ini, besok kita akan kembali ke pinggir pantai, karena waktu yang sudah malam yang tak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, saat aku dan yang lainnya menghampiri rumah tersebut aku merasakan hal yang aneh dari rumah itu, tapi ya sudahlah, toh ini juga hanya sementara.

Saat mereka tertidur lelap, aku dan kirana masih saja belum bisa tidur karena sepertinya ada kejanggalan dalam rumah ini, bagaimana tidak, rumah ini terlihat sangat berantakan dan kotor, “bagaimana mungkin ada rumah di tengah pulau seperti ini, terucap dalam hatiku”. Matahari pun tlah memunculkan sinarnya dari ufuk timur, aku dan temanku segera bergegas untuk cepat keluar dari pulau ini. Kami menempuh perjalan yang cukup lama untuk sampai ke pesisir pantai, namun tak sampai juga, mungkin kami semua tersesat. Terus dan terus kami menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, lalu kami pun bertemu dengan seorang kakek tua yang ada di pulau itu. Kami semua terkejut akan kedatangan kakek tua itu, aku dan kirana berteriak karena ketakutan.
“aaaaaaaaa!!! Aku dan kirana berteriak sekeras mungkin karena terkejut dan ketakutan”
“bapak siapa?” Tanya yudana pada kakek itu
“sebenarnya mau apa bapak ini mengagetkan kami seperti ini?” Tanya Samuel pada bapak itu
“kalian gak usah takut, bapak cuma minta kalian pergi dari tempat ini, tempat ini berbahaya!!” ucap bapak itu dengan nada yang menyeramkan
“memang apa yang sebenarnya terjadi di pulau ini sih pak? kenapa dari tadi kita tidak menemukan jalan keluar?” Tanya yudana pada kakek itu
“baiklah, sekarang kalian ikut bapak untuk keluar dari tempat ini dan jangan pernah menengok ke belakang, nanti kalian akan terus tersesat selamanya di tempat ini dan tak kan pernah bisa keluar dari tempat ini, kalian hanya boleh menengok saat kita sudah sampai di pesisir pantai, nanti bapak akan ceritakan semuanya pada kalian, pahaam!!” ujar kakek tua itu

Saat kami semua sedang berjalan menuju pantai, aku mendengar teriakan Samuel dan meminta tolong, karena kakek itu menasehati kami jangan menengok ke belakang, aku tak memperdulikan teriakan itu, tak berapa lama kami sampai ke pesisir pantai.
“sekarang kalian boleh menengok ke belakang” ujar kakek
“haah, kemana mereka semua kek, kenapa mereka semua menghilang kek? Jawab kek?” tanyaku sambil berteriak dan menangis
“teman-teman kalian tidak mematuhi apa yang kakek bilang, kakek bilang jangan menoleh ke belakang sebelum sampai di pesisir pantai ini!!!” jawab kakek tanpa berbuat apa-apa
“lalu bagaimana dengan nasib temanku kek? Sebenarnya apa yang terjadi sih kek? Ada apa di pulau ini? Tanyaku dengan sedikit bernada tinggi
“baiklah, akan kakek ceritakan semuanya padamu, dahulu kala di tempat ini terdapat suatu perumahan atau perkotaan tempat orang berwisata di sini, karena tempat ini dikenal sangat indah dan sejuk, namun saat itu terjadi wabah penyakit yang sangat mengerikan dan mematikan, semua orang terkena penyakit itu, akhirnya kota kecil itu pun dibakar, semua bangunanya lenyap lalu tempat ini terkena tsunami yang sangat besar, setelah beberapa tahun tanah inilah yang tersisa dan disebut orang sebagai pulau yang indah, mereka yang terbakar disana ingin membalas dendam pada orang yang telah membakar tempat ini, siapapun yang datang ke tempat ini mereka tak kan selamat, beruntunglah kamu selamat, sekarang pergi dari tempat ini, sebentar lagi ada perahu yang datang dan akan menjemputmu meninggalkan kota ini.” Ujar kakek itu menceritakan semua hal yang terjadi di tepat ini
“terimakasih kek, kakek gimana” Tanyaku
“tenang saja, sekarang cepat kamu pergi dari tempat ini” ujarku, setelah itu kakek menghilang dan perahu pun datang.
  Keajaiban Dunia

Keajaiban Dunia

Cerpen Karangan: Nahdiatul Ghina
“Alisha cepat! Ibu sama Ayah udah siap nih!” Aku pun segera keluar rumah setelah mengambil barang-barangku. Hari ini Aku akan ke India karena Aku mendapat beasiswa kuliah di Univers Mumbai. Aku lumayan senang sih… Aku bersama orangtuaku pun berangkat menaiki mobil menuju ke Bandara.Keluargaku memang lumayan berada dengan rumah yang lumayan besar yang ditempati oleh Ibu, Ayah, Aku, dan Adik perempuanku yang kelas 1 SMA.

“Nanti kamu tinggal sama nenek ya di sana. Ada juga Bibi sama Paman yang udah 1 tahun tinggal di rumah nenek. Ayah udah nyuruh paman sama bibi untuk jemput kamu di Bandara nanti.” Kata Ayah saat dalam perjalanan.” Ada juga Jhonny. Dia nanti kuliah di Univers Mumbai juga. Cuma beda jurusan, dia ngambil jurusan Sejarah.” Sahut ibu. “Oh ya? Asyik dong bareng si Ompong lagi. Udah 10 tahun gak jumpa sama mereka berempat.” Sahutku. “Iya, malah ibu udah ngirim foto kamu yang sekarang, soalnya mereka gak tau gimana fisik kamu sekarang.” Sahut Ibu.

Kami pun tiba di Bandara. Ternyata ada Shinta yang telah menungguku. Dia adalah sahabatku sejak SMA.

“Udah lama nunggu?” Tanyaku pada Shinta.

“Lumayan, hampir aja numbuh ekor.”

“Maaf deh.. hehe”

“Kamu jaga diri ya di sana… Jangan lupain sahabat kayak Aku… Aku sebenarnya sedih sih kalo kamu pergi… Tapi Aku juga senang kalo liat kamu sukses…” Kata Shinta seraya menangis. Aku memeluknya dan menangis. “Aku gak bakal lupain kamu kok… Kita kan bisa chattingan/sms-an/telfonan..” Kataku lalu melepas pelukan. “Lagipula, sekarang kan bukan zaman 80-an lagi, hahaha…” Kataku dan kami pun tertawa.

“Alisha, pesawatnya udah mau berangkat.” Kata Ayah. Setelah berpamitan pada mereka, Aku pun menaiki pesawat dan berangkat. Sedih rasanya harus meninggalkan mereka. Tapi ini harus Aku lakukan agar Aku menjadi sukses.

Saat di perjalanan dalam pesawat, Aku tertidur dan bermimpi yang aneh. Di dalam mimpiku, Aku menaiki tangga yang berliku-liku dan saat di ujung tangga, ada sebuah pintu besar yang berukiran bunga teratai. Di tengah pintu terdapat sebuah jiplakan telapak tangan. Saat Aku meletakkan telapak tanganku di jiplakan itu, tiba-tiba pintu itu terbuka. Aku tidak dapat melihat apa yang ada di hadapanku setelah pintu itu terbuka. Aku pun terjaga. Mimpi yang aneh, batinku.

Setelah beberapa jam dalam perjalanan, akhirnya Aku sampai di Mumbai. Ada perasaan lain dalam hatiku saat Aku menginjakkan kaki di tanah India. Sepertinya Aku telah beratus tahun meninggalkan kampung halamanku sendiri dan setelah pergi jauh ke Negara lain, Aku kembali pulang ke kampung halamanku. Namun kenyataannya memang Aku keturunan India, terlihat dari fisikku yang menyerupai gadis India dengan Mata, hidung dan bibir yang khas gadis India.

Di luar Bandara, Aku menjumpai Paman dan Bibi yang telah menungguku. Aku menghampiri mereka dengan senyum dan memeluk mereka.

“Aduh.. Gadis yang satu ini tambah manis saja… Semakin mirip dengan gadis India..” Puji paman.

“Apaan sih paman? Baru ketemu juga udah disemprot, pake minyak wangi lagi, hahaha..” Kataku.

“Tapi waktu kecil kamu mirip sama gadis kecil Turki lho.. hehehe..” Sahut bibi.

“Ya udah… Kalo gitu nanti aja kita ngomongin di mobil…” Kataku lalu mengajak paman dan bibi masuk ke mobil dan pulang ke rumah nenek.

Setibanya di rumah nenek…

“Neneeek…!” Teriakku berlari ke arah nenek untuk memeluknya dan menciumnya. Aku merangkul nenek yang keheranan.

“Ini Alisha cucu nenek kan?”

“Ya iya lah neek.. Siapa lagi?”

“Kok gak mirip ya?”

“Ya iya lah gak mirip neek… Nenek kan ketemu sama Aku pas aku SD.. Sekarang kan Aku udah gede… Masa kecil-kecil terus…”

“Hehehe…”

“Oh ya, bibi, Si Ompong mana?” Tanyaku pada bibi tentang Jhonny yang seumuran denganku. Aku memanggilnya Ompong karena dulu dia Ompong gara-gara rajin makan coklat.

“Tidur di kamar. Bikin aja kejutan, dia pasti gak kenal sama kamu.” Aku pun cekikikan sambil menuju ke kamar Jhonny dan masuk ke kamarnya. Ternyata dia sudah tumbuh menjadi pria tampan.

“Jhonny… Jhonny sayang…” Panggilku membangunkannya. Lantas saja Jhonny kaget.

“Siapa kamu?! Kenapa bisa ada di sini?! Mau Mencuri ya?! Cantik-cantik kok mencuri?! Atau? Mau dijodohin orangtuaku sama aku?” Teriak Jhonny.

“Dasar Ompong!” Kataku seraya menarik hidungnya yang mancung. “Alisha?!!” Aku lari sambil tertawa dan dia mengejarku. Kami pun bercanda.

Malam hari pun datang, Aku duduk sendiri memandangi langit malam. Ternyata malam hari di Mumbai menyenangkan.

“Punya pacar?” Tanya jhonny yang mengagetkanku, dia pun duduk di sampingku.

“Apaan sih? Datang-datang nanyain pacar. Aku gak pernah pacaran.”

“Kenapa? Gak laku? Hahaha…”

“Enak aja! Malah udah 5 cowok yang nembak Aku.”

“Terus kenapa gak terima?”

“Males. Kamu sendiri?”

“Udah punya 3 mantan. Sekarang juga lagi males. Oh ya, kita kan nanti sekampus, kata nenek kita pergi barengan naik motor aku yang macho.”

“Okee deeh. Kalau gitu, Aku tidur duluan ya. Good Night..” Aku pun ke kamar untuk tidur.

Saat tidur aku bermimpi yang aneh. Di dalam mimpiku, Aku memakai pakaian adat pengantin kerajaan India dengan didamping oleh Ibu menuruni tangga yang pernah Aku mimpikan di pesawat. Aku pun terbangun dan pergi ke dapur untuk minum segelas air. Selesai minum, saat aku hendak kembali ke kamar, ada sosok wanita yang berpakaian khas kerajaan India di hadapanku. Aku pun kaget tapi tidak berteriak.

“Siapa kamu?! Mau apa?! Jangan ganggu Aku!”

“Selamat datang di daerah kekuasaan anda, tuan putri… Saya pamit dulu..” Kata wanita itu lalu mundur 3 langkah sambil menunduk, berbalik, dan menghilang. Aku mengatur nafasku. Kejutan macam apa ini? Baru tiba di sini sudah didatangi hantu aneh, batinku. Aku pun kembali tidur di kamar.

Keesokan paginya…

“Hey! Nyenyak tidurmu semalam?” Sapa Jhonny yang membuyarkan lamunanku.

“Iya, sampe dapet kejutan yang sangat menakjubkan.”

“Kejutan apa?”

“Ah jangan dibahas. Yuk berangkat.” Kami pun berangkat ke kampus.

Jam menunjukkan pukul 12 siang. Saatnya Aku pulang. Aku menuju ke ruangan Jhonny untuk mengajaknya pulang. Saat Aku dan Jhonny ke tempat parkiran, tidak sengaja bajuku tersangkut pada jam tangan seorang pria tampan yang bernama Karan, kakak senior Jhonny.

“Maaf, Aku tidak sengaja.” kataku dalam bahasa India. Untung Aku sempat les private Indian selama 3 tahun. Lalu melepaskan sangkutan di jam tangannya.

“Iya, tidak apa-apa.” jawabnya. Aku pun tersenyum dan beranjak pergi. Namun dia mencegahku.

“Tunggu! Aku Karan, kamu?”

“Alisha, jurusan seni. Ini Jhonny, jurusan Sejarah.”

“Aku juga jurusan sejarah. Anak baru ya?”

“Iya.” Jawab Jhonny.

“Kalian sepasang kekasih?”

“Iya. Kami sepasang kekasih.” Jawab Jhonny lalu merangkulku.

“Apaan sih kamu?” Bisikku pada Jhonny.

“Udah tenang aja…” Jawab Jhonny.

“kalau begitu, Aku pergi.” Katanya lalu pergi. Aku kenapa senyum-senyum sendiri ya? Ah entahlah.

Malam harinya, entah kenapa, Aku terus memikirkan sosok Karan, pria yang baru ku kenal nama dan jurusannya. Tiba-tiba di hadapanku muncul lagi hantu aneh yang kemarin malam.

“Kamu siapa?! Mau apa lagi sih?!”

“Selamat malam, tuan putri… Saya adalah Jahanara, Putri dari Maharaja Shah Jahan dan Permaisuri Mumtaz Mahal.. Saya datang dari masa lalu karena amanat dari Permaisuri Mumtaz Mahal. Anda diharapkan untuk datang ke makamnya, Taj Mahal..”

“Apah?!”

“Ada yang perlu Permaisuri bicarakan bersama anda. Saya akan selalu ada untuk memberi petunjuk bagi anda. Saya pamit.” Katanya lalu mundur 3 langkah, berbalik, dan menghilang. ANEH!

Keesokan harinya…

“Nanti malam ada pesta di kampus.” Kata Jhonny.

“Oh ya?”

“Iyaa.. Kita pergi, ya?”

“Males aah.. Aku gak punya saree..”

“Nanti deh aku beliin.”

“Hmm yayaa..” Kami pun pergi membeli saree.

Malam harinya…

Di pesta, semua orang memandangiku.

“Aku jelek ya memakai saree?” Tanyaku pada Jhonny.

“Cakep banget, bodoh! Semua terpesona sama kamu!” Aku menjadi tersipu.

“Aku ke tempat temen-temenku ya.” Kata Jhonny lalu pergi meninggalkanku.

“Hay.” Sapa Karan dengan senyumnya yang terpesona, uuh! Perutku rasanya ingin pecah menahan gelora asmara ini.

“Hay.”

“Sendiri? Mana pacarmu?”

“Aku tidak punya pacar.”

“Lalu? Jhonny?”

“Dia sepupuku, hehe..”

“Oh? Hahaha…”

“Kau sendiri?”

“Tidak, dengan teman-temanku. Mereka di belakang”.

“Pacarmu?”

“Aku tidak punya pacar.”

“Hahaha… Kau memang lahir di India?”

“Ya, kau?”

“Aku lahir di Indonesia, keturunan India. Hanya saja Nenekku tinggal di India. Aku ke sini karena mendapat beasiswa kuliah di sini.”

“Waw, menakjubkan.” Tiba-tiba Aku melihat hantu aneh itu di belakang Karan. Aku menjadi gelisah.

“Kenapa?” Tanya Karan keheranan melihat tingkahku. Aku menggeleng dan permisi ke toilet.

Di toilet, hantu itu muncul lagi di hadapanku. Apa sih maunya nih hantu?!

“Kamu mau apa sih dari aku?!”

“Sepertinya Anda sudah bertemu dengan pasangan hidup anda.. ? Dia sangat tampan.. Maaf, tuan putri, Anda harus segera ke Taj Mahal untuk menemui Permaisuri Mumtaz Mahal.” Kata hantu itu lalu menghilang dengan cara sebelumnya. Aku shock berat dan langsung keluar dari toilet. Di hadapanku ada Karan.

“Apa yang terjadi?” Tanyanya.

“Aku minta tolong padamu.P lease, tolong Aku…”

“Aku akan selalu ada untukmu. Ada apa?” Hah? Apa maksudnya dengan ‘selalu ada untukmu’? Ah entahlah. Aku pun menceritakan semuanya. Lantas saja Karan kaget.

“Kau tau apa yang terjadi?” tanyaku.

“Alisha, kau adalah orang yang selama beratus tahun dicari oleh para peneliti sejarah dunia. Kau adalah pewaris tahta kerajaan Mughal sepenuhnya. Dan India, Pakistan dan Afghanistan adalah tanah kekuasaanmu sepenuhnya. Aku tidak menyangka bahwa orangnya adalah kau! Menurut kepercayaan kami, kau adalah jiwa pilihan Permaisuri Mughal Mumtaz Mahal. Dia memilihmu karena kau dapat mengungkapkan kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik Mumtaz Mahal.” Jelas Karan dengan penuh semangat.

“Waw, menakjubkan. Tapi hantu itu mengatakan bahwa aku harus segera ke Taj Mahal untuk menemui Mumtaz Mahal.” Kataku.

“Menurutku, turuti saja permintaannya. Ayo, biar Aku antar kau ke sana. Tiba-tiba Jhonny datang.

“Sepertinya ada ketegangan disini. Ada apa?” Tanya Jhonny.

“Jhonny, Aku harus ke Taj Mahal sekarang bersama Karan. Aku mohon padamu katakan pada nenek dan orangtuamu bahwa Aku di Taj Mahal. Aku pergi.” Kataku dan langsung pergi dengan Karan menaiki mobilnya tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan Jhonny. Aku dan Karan menuju ke Taj Mahal.

Sudah 3 jam dalam perjalanan, akhirnya kami sampai di Taj Mahal. Jiwaku terasa sangat tenang saat mendekati Taj Mahal. Ada cukup banyak pengunjung di malam itu. Aku hendak memasuki Taj Mahal tapi Karan menarik tanganku.

“Apapun yang terjadi, tetap tenang.Jangan panik.” Kata Karan. Aku tersenyum dan masuk ke dalam. Tapi saat Aku masuk ke dalam, tiba-tiba Taj Mahal bercahaya. Aku kaget. Aku pun keluar dari Taj Mahal bersama para pengunjung yang ada di dalam Taj Mahal.

“Kenapa saat kau memasuki Taj Mahal, Taj Mahal bercahaya? Ini benar-benar menakjubkan!” Kata Karan. Tiba-tiba ada seorang sejarawan yang datang menghampiriku.

“Kamu orang yang kami cari selama ini!” Kata sejarawan itu.

“Maaf, pak. Saya harus masuk ke dalam untuk menyelesaikan urusan saya.” Kataku lalu berlari memasuki Taj Mahal. Aku melihat-lihat apa yang ada di dalam Taj Mahal karena baru kali ini Aku mengunjungi Taj mahal. Tiba-tiba Aku mendengar bisikan “ikuti suara nyanyian ibuku.” Aku pun mendengar suara nyanyian yang sangat merdu. Aku mengikuti arah suaranya. Aku menemukan tangga yang ada di dalam mimpiku. Aku pun menaikinya. Sesampainya di ujung tangga, Aku melihat pintu yang sama seperti di dalam mimpiku. Aku meletakkan telapak tanganku di jiplakan tangan itu dan pintu terbuka.

Aku melihat sebuah ruangan yang dipenuhi dengan banyak harta benda seperti emas, mutiara, berlian, intan, perhiasan, dan batu-batu bernilai tinggi lainnya. Aku juga melihat foto-foto anggota keluarga kerajaan, dan 1 foto yang mengejutkanku, yaitu fotoku yang berpakaian ala tuan putri Mughal.

“Selamat datang, tuan putri Syaharani. Aku Permaisuri Mumtaz mahal.”

“Apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin kau menyatakan pada dunia tentang beberapa hal dan kuharap kau menerima bahwa kau adalah pewaris tahta kerajaan Mughal.”

“Baik, aku terima walau aku tidak percaya. Namun, hal apa yang ingin kau katakan?”

“Sebenarnya, ini bukan makamku. Makamku ada di Kashmir bersama dengan makam suamiku tercinta. Ini adalah istana untukmu. Aku tidak mau Shah Jahan mengatakan kalau ini adalah istana untukmu, jika yang lain tau, maka masalah akan muncul dalam pemerintahannya. Shah Jahan juga berniat untuk membangun yang seperti ini lagi dengan bahan marmer hitam untuk calon suamimu, Karan. Tapi ditentang oleh Aurangzeb, putraku.”

“Tunggu, apa yang kau katakan tadi? Karan adalah calon suamiku?”

“Ya, dia adalah calon suamimu. Pangeran Raza Zirazi. Sebenarnya, tidakan Aurangzeb benar dengan menentang ayahnya karena Ayahnya telah memboros harta untuk rakyatnya. Aurangzeb adalah putraku yang realigius. Dia selalu berpedoman pada islam. Dan satu hal lagi, dia tidak pernah melakukan pemberantasan orang hindu demi menyiarkan agama islam, tapi dia meghancurkan sebahagian kuil untuk mengamankan rakyat dari perang orang-orang Hindu yang mengkhianati kerajaan. Hanya itu.”

“Aku akan mengingatnya.”

“Oh ya, sebelum Aku pergi, di antara harta-harta ini, ada 1 peti yang berisi perhiasan untukmu, untuk pernikahanmu. Dan kuharap harta-harta ini kau pergunakan sebaik mungkin. Aku pamit. Semoga kau bahagia dan sejahtera.” Kata Mumtaz Mahal dan menghilang. Aku kembali keluar.

Ternyata berita tentangku telah mendunia. Aku telah mengungkapkan apa yang Mumtaz Mahal katakan padaku dan ini membuat dunia menjadi gempar. Aku dicantumkan sebagai orang yang telah berjasa dan menakjubkan di dunia. sejak itu Aku menjadi Ratu di India, Pakistan dan Afghanistan.

Setelah itu, Aku menikah dengan Karan, pria yang baru ku kenal. Ternyata dia telah mencintaiku sejak pertama kami bertemu. Setelah menikah, Aku kembali ke Indonesia dan berkumpul bersama Ibu, Ayah, nenek, paman, bibi, adik perempuanku, Jhonny, Shinta, dan Karan. Setelah 9 bulan pernikahanku, Aku hamil dan 9 bulan kemudian Aku melahirkan bayi perempuan. Namun setelah melahirkan, Aku meninggal dunia.

*TAMAT*
 Anyelir Pusaka

Anyelir Pusaka

Cerpen Karangan: Hargita Saputri Mei Vita

Waktu itu, di dunia peri, terjadi perang sengit antara penyihir Glawise atau penyihir jahat dari utara melawan Ratu Melia, ratu pemimpin dunia peri. Mereka berdua memperebutkan bunga Anyelir Pusaka. Diduga, bunga itu memiliki kekuatan peri yang sama dengan kekuatan dewa.“Kau tak akan mendapatkan bunga itu! Karena kau menggunakan Anyelir Pusaka hanya untuk melakukan perbuatan jahat mu!” tantang Melia.

“Omong kosong !!” bantah Glawise

Lalu, Glawise memecahkan kotak kaca yang di dalam nya terdapat bunga Anyelir Pusaka dengan kekuatan sinarnya. Dengan sigap, ia mengambil bunga itu.

“Apa katamu, hah? Aku taK mendapatkan ini? omong kosong!” kata Glawise sombong.

Melia merasa penyihir jahat itu telah merebut benda pusaka tanpa seizin nya.

“Aku akan mengambil bunga itu darimu!!!” teriak Melia menggunakan kekuatan angin yang sangat dasyat. Ia mengibas-ngibas sayapnya yang besar ke arah Glawise. Tapi, Glawise sudah menghilang.

“Huh, aku tak kan menyerah mendapatkanmu, Anyelir Pusaka” runtuknya dalam hati

Saat di kerajaan penyihir Glawise, Glawise menaruh Anyelir Pusaka itu di kotak kaca tepat di singgasana nya.

“Hahahahaha sebentar lagi, aku akan menjadi yang terkuat di dunia peri! Aku akan merebut Monster Agie untuk menegendalikan dunia peri! Aku akan mengalahkan mu, Melia Adswen” kata Glawise licik.

Saat di perjalanan, Melia cemas. Ia berpikir, bagaimana kalau Glawise merebut Monster Agie yang ganas itu? Lalu menghancurkan dunia peri? Apa dia sudah gila?

“Ratu, anda tidak apa-apa?” tanya pengawal Melia.

“Ya, aku tidak apa-apa. Oh, kau tanyakan pada pengawal yang menyamar menjadi pengawal Glawise, apa dia sudah pergi dari istananya?” kata Melia.

“Saya tadi sebelum kita berangkat, saya bertanya kepada nya, ternyata Glawise sedang ke luar istana, yaitu ke tambang berlian bunga.” kata pengawal sopan.

“Baiklah, ayo, cepat kesana. Atau kita terlambat!” kata Melia memerintah.

Di tambang berlian bunga, Glawise menemukan berlian bunga biru untuk untuk mengendalikan Monster Agie.

“Untuk mengendalikan Agie, aku butuh ini” kata Glawise mengambil berlian itu.

“Nyonya, apakah anda tidak salah, bukannya berlian bunga kuning? Sesuai dengan kekuatan nyonya?” kata pengawal Glawise memberi saran.

“Kau jangan meremehkanku, aku bisa mengendalikan semua” kata Glawise lantang.

“Tapi..- ” ucapan pengawal Glawise dipotong

“Sudah kubilang jangan meremehkan ku!! Ayo, kita kembali, aku merasakan hawa aneh dari istana” kata Glawise marah lalu berjalan keras.

Pengawal hanya menurut.

Saat para orang-orang dari kerajaan Melia ingin mengambil kotak kaca Anyelir itu, tiba-tiba kotak itu menghilang dan terdengar suara tertawa licik.

“Hahahaha, kau mencoba mengambil ini? Tidak mungkin!” kata Glawise.

Lalu, Glawise mengumpulkan kekuatan sinar dan air. Tapi..

“Oh, tidak! Aku lupa memakai kalungnya!” kata Glawise panik.

“Hah, bagaimana Glawise Alifocer, apa kau tidak memakai kalung? Hahaha, aku akan megalahkan mu sekarang!” kata Melia mengeluarkan kekuatan angin yang membentuk angin topan.

“AAAAAAAA!!!” jerit Glawise di dalam topan itu. Seketika, angin dan Glawise menghilang. Hanya tertinggal kotak kaca Anyelir Pusaka.

Melia pun mengambil Anyelir Pusaka itu dan membawa pulang. Peperangan pun usai.

Di kerajaan, Melia menggunakan Anyelir Pusaka untuk kepentingan dirinya dan rakyat. Para rakyat sangat menyukai Melia karena baik hati dan telah menyelamatkan dunia mereka.

Melia tersenyum karena telah mendapatkan Anyelir Pusaka. Semua orang tidak tahu. Sebenarnya, orangtua Melia berada di dalam Ayelir Pusaka. Orangtua Melia melakukan hal itu karena ingin dunia mereka selamat.

TAMAT

Salju Terakhir (Bagian 2)

oleh: Ronny Mailindra 
Sutan Batuta tak mungkin menyerah jika hanya didiamkan.
Sudah lewat tengah malam namun pikiranku masih saja mengembara. Karena tak bisa tidur, aku pergi ke benteng.
Amarukso mengatakan Bujanglebun tetap bergeming di dekat gerbang.
Orang ini jelas cari mati, pikirku.
“Bawa dia masuk. Beri makan dan tempatkan di barak. Besok pagi hadapkan ia,” perintahku. “Ingat, jangan lengah!”

Salju Terakhir (Bagian 1)

Oleh: R.Mailindra
Lengah pangkal celaka. Nasehat itu tak mungkin kuabaikan. Mendengar namanya saja segera membuat kantukku menguap, dan begitu kulihat tampangnya, kuyakin akan celaka berlipat jika sampai lengah.
“Kau mampu menghianati Tuanmu, apa jaminanmu tak membokongku?”
Back To Top