Blognya Seorang Pelajar || Penyedia Berbagai Jenis Cerpen

Kamu Semangatku

Pagi yang cerah ini, aku sangat bersemangat sekali untuk pergi ke sekolah, karena hari ini adalah hari dimana aku memasuki kelas baruku yaitu, kelas XI-Bahasa. Kelas yang sangat aku dambakan dari kelas X.
Aku mulai memasuki kelas dan menata sepatu ku di rak yang telah disediakan.
Aku pun duduk di di bangku no 3 deret ke 2 dari pintu masuk. Tiba-tiba pandangan ku mulai tertuju pada seorang yang duduk di bangku pojok kanan dan pojok kiri depan. Aku pun hanya terdiam dan mengalih kan pandangan ku, karena aku belum terlalu kenal dekat dengan nya.
Hari berjalan demi hari, aku pun mulai akrab dengan teman se kelas ku.
Kelas yang hanya berisikan 30 siswa, yaitu kelas XI-Bahasa.
Dan saat ini adalah hari jum’at. Sekolah ku mulai mengadakan kegiatan jum’at bersih atau lebih di kenal dengan hari kerja bakti. Aku mulai menyapu lantai, setelah itu aku membantu teman-teman yang lain untuk membuat lubang resapan air (biopori).
“heh.. mala, kamu mau kemana? “Tanya dika”
“eh.. dika. Ini, mau bantu temen yang lain membuat biopori. “jawab ku”
“oh iya.. semangat ya untuk hari ini. “tambah dika”
“iya, eh… kamu enggak bantu? “Tanya ku”
“iya, nanti aku nyusul. “kata dika”
“oke. “jawab ku singkat”
Aku mulai menuju ke taman pos jaga yang ada di sekolah ku dan mulai membuat biopori.
Setelah semua kegiatan selesai, aku kembali ke kelas dan mulai belajar bahasa jepang, karena pada jam ke 3-4 nanti ulangan.
“hei.. tumben belajar, emang nanti ada ulangan ya? “Tanya dika”
“iya. “jawab ku singkat”
“semangat ya, untuk ulangan nya. “kata dika”
“oke. “Jawab ku singkat”
Tak lama kemudian, ujian semester 1 pun telah tiba, aku mulai semangat belajar.
“Ujian semester 1 jangan di buat grogi. Di buat enjoy aja. Semangat dong… mana semangat nya? “kata dika”
“Ya ya, aku semangat. “Jawab ku dengan nada sedikit kesal”
Setelah ujian usai, tak lama kemudian, hari penerimaan raport pun tiba.
saat aku menerima raport dan mulai membukan nya, ternyata…
aku enggak dapat peringkat 1-10.
Dengan perasaan sedikit kesal, aku menutup raport ku dan bergegas ke luar kelas.
“ada apa dengan ekspresi wajah seperti itu? “Tanya adit”
“aku enggak dapat peringkat 1-10. “Jawab ku dengan suara lirih”
“Hanya karena itu kamu murung? Belajar memang harus ada proses. Pada awal nya memang gagal, tetapi lama kelamaan kamu pasti bisa. “celetuk adit”
“ya. “jawab ku dengan suara lirih”
“Sambil menepuk bahu kiri”. Semangat dong… untuk belajar yang lebih giat. “ucap dika”
“Ya. “terimakasih atas ucapan semangat nya. “jawab ku dengan suara lirih”
Saat itu juga, aku mulai berpikir, dika dan adit.
mereka yang duduk di bangku pojok kanan dan pojok kiri depan.
mereka berdua adalah semangat ku.
terimakasih atas kalian berdua dan terimakasih atas ucapan semangat yang kalian berikan kepada ku selama di kelas XI ini…


Cerpen Karangan : Kris Monika

Kenangan Tempo Dulu

Mungkin memang ku cinta
mungkin memang ku sesali
pernah tak hiraukan rasamu dulu
aku hanya ingkari kata hatiku saja
tapi mengapa cinta datang terlambat-

Lagi itu kuputar kembali mengingat kejadian dulu saatku bersamanya yaitu orang yang sangat kucintai

Flashback-
"kamu dimana ?? "tanya seorang pria melalui telpon
"dirumah, ada apa vin?" jawabku santai
" aku ingin bertemu dengan mu, datang ketaman ya "
" baiklah tunggu aku disana" tut telpon kami pun terputus
Tumbenan kevin mengajak ku bertemu dengan nya ada apa ya ? apa ada yang penting? biasanya kan dia datang kerumah *batinku
Flashback Off-

Oh iya aku lupa memperkenalkan namamu keyylannissa dipanggil key aku kuliah semester tiga di universitas sumatra utara aku mempunyai seorang mantan yaitu kevin syahputra tapi dulu aku tak pernah mencintai nya aku dulu berpacaran dengan nya hanya menutupi status jombloku, tapi cinta untuknya sedikit pun tak ada tapi setelah kami putus aku kehilangan sosok yang sangat sayang dan perhatian kepadaku jujur aku mencintainya sekarang

Flashback On-
"maaf sudah menunggu lama vin?" kataku menyapanya
"enggak kok, aku juga baru nyampek sebelum kamu "
"ada apa vin tumben ngajak aku ketemuan ditaman biasanya kamu kan datang kerumah aku "
"sebelumnya aku mintak maaf"
"mintak maaf buat apa? emg kamu ada salah sama aku???"
" mungkin key, keyla aku tau kamu tak pernah mencintaiku setulus hatimu aku selalu berusaha selalu ada disampingmu dan selalu menyayangimu agar kamu bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu tapi semua siasia sedikitpun kamu tak perna mencintaiku key. mungkinlebih baik kita putus karna percuma jika melanjutkan ini karna hanya aku yang mencintaimu maafkan laku key"
"kalau itu yang kamu mau aku gak bisa berbuat apaapa seharusnya aku yang mintak maaf bukan kamu"
Flashback finish-

mulai dari kejadian itu aku tidak pernah lagi contact dengannya dikampus pun aku tak bertemu dengannya

Hari ini ada acara pensi dikampusku aku menampilkan bakatku malam ini
"selamat malam semuanya" sapaku kepada temantemanku
"malam" jawab mereka serentak
"malam ini saya ingin menyanyikan lagu untuk seseorang yang dulu mencintai saya dan saya baru sadar saya mencintainya" dan aku mulai memetikan gitarku

-tlah lu mengerti mengapa begini
waktu dulu kutak pernah merindu
tapi saat semuanya berubah
kau jauh dariku pergi tinggalkan ku
Mungkin memang ku cinta mungkin memang ku sesali
pernah tak hiraukan rasamu dulu
aku hanya ingkari kata hatiku saja
tapi mengapa cinta datang terlambat -

"terimakasih"
"wow ternyata kamu pintar juga nyanyi ya" kata seseorang yg sudah dihadapanku
"terimakasih vin"
"apakah lagu itu untukku jika iya apakah kamu memang mencintaiku?"
"iya vin "kataku gugup
" key perasaanku terhadap mu masih sama seperti dulu aku masih mencintaimu aku ingin kau menjadi pendampingku key ,maukah kau"
"iya vin aku mau" jawabku sambil memeluknya

sekarang aku baru nyadar aku mencintainya walaupun cintaku datang terlambat untuknya makasih vin masih mencintaiku
Surat Rindu Untukmu

Surat Rindu Untukmu

Di keheningan waktu, tak kurasa kau berada, kenangan fatamorgana yang pernah terbang di ufuk langit senja, masih kuingat. Mungkin sekarang kau masih semangat meniti masa depanmu di kota Jambi tercinta.

Satu hal yang masih kuingat dari dirimu, yaitu ketika kau dan aku berdiri di taman sekolah, sambil menatap langit lazuardi, kau bercerita tentang keinginanmu yang sangat gigih hingga aku terharu mendengarnya. kau berkata “apakah kau lihat burung-burung berlarian di langit lazuardi itu?”.

Aku menjawab “iya, aku melihatnya. mungkin ada sesuatu yang ingin kau utarakan mungkin?”.

“Ehem-ehem, memang ada yang ingin aku utarakan. begini, aku ingin tahun ini adalah tahun dimana orangtuaku tidak membiayai masa depanku, dalam arti aku ingin mendapatkan beasiswa pendidikan sampai strata 3, berarti aku ingin sekali mendapatkan beasiswa di MAN Cendikia Jambi dan Universitas Al Azhar Mesir. Dan kau lihat dik, langit lazuardi itu, aku lambangkan langit itu seperti masa depanku yang cerah, aku ingin orangtuaku bangga padaku jikalau aku berhasil mendapatkan beasiswa dan aku berharap semoga cita-citaku bisa tercapai, karena menurut pendapatku, aku merasa belum bisa membahagiakan orangtuaku.”

“Memangnya apa cita-cita yang kau idamkan kak?.”

“Aku ingin menjadi seorang menteri agama, ataukah ulama besar, ataukah saja semoga aku menjadi guru besar ilmu fiqih di Universitas Al Azhar Mesir, ya yang terpenting di bidang agama dik.”

Aku terharu mendengar keinginan hatimu yang paling dalam aku pun hanya berkata, “semoga Allah mengabulkan keinginanmu kak.”

“Barakallahu fiq adikku, dan semoga juga Allah mengabulkan keinginanmu.”

Himne-himne kupujakan kepada sang kholiqul bahri, untuk mendoakanmu semoga kau senantiasa dalam lindungannya. Kau telah pergi 3 tahun yang lalu untuk menggapai asa dalam benakmu, demi masa depan kau tempati Kota Jambi. Di fikiranku kau sosok pemuda yang humoris dengan kata-kata renyah yang selalu kau ungkap, kau sangat cerdas, serta kau sangat semangat untuk menggapai masa depanmu, mungkin apakah karena hal itu aku jadi terpikat olehmu?, tiba-tiba aku rindu sosok sepertimu. Generasi penerus bangsa, ya kau generasi penerus bangsa yang sangat hebat, kuingin kau bisa menjadi generasi yang membanggakan Jawa maupun tanah air di mata dunia. Mungkinkah kau akan kembali ke ranah Jawa?. Jawa sangat menanti kau kembali kakak Ibad.

Cerpen Karangan: Nur Aini
Sakitnya Tuh Disini !!!

Sakitnya Tuh Disini !!!

Malam ini terasa sangat sepi, hp pun tetap dengan layar hitam tanpa led merah, aku selalu melihat hp ku dan selalu membuka akun sosial ku dan berharap ada kabar dari kamu. Aku hanya berharap kabar dan permintamaafan dari kamu niatnya hanya untuk membuat kamu sedikit jera dan mengerti perasaan aku? Tapi nyatanya itu semua tidak ada respond dari kamu, sudah hampir satu minggu kau tak menghubungi ku, ya aku fikir mungkin kamu butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran mu, aku disini yang setiap saatnya memikirkan sedang apa? Dimana? Dengan siapa? Kamu sekarang. Sedih memang saat aku berfikir kalau nyatanya kamu gak pernah fikirkan aku.

Akhirnya aku mencoba menghubungi kamu karena aku sadar mungkin ucapan ku yang terlalu salah hingga membuat kamu merasa kesal akhirnya aku beranikan telfon, dua kali ku telfon tidak diangkat, dan akhirnya ku kirim pesan, setidaknya dia akan membaca pesan ku
“apa kabar? Maafin aku ya”
Yaa setelah pesan ku kirim dan berharap ada balasan aku pun sampai tertidur.
Esok pagi nya ketika aku terbangun langsung aku cari hp ku berharap Anis membalas nya, ya wanita itu bernama Anis wanita yang sangat aku sayangi, dan ternyata pesan masuk pun tidak ada sama sekali, aku berfikir positif mungkin dia tidak ada pulsa dan akan membalasnya bila dia sudah punya pulsa.
Akhirnya aku memutuskan untuk mandi dan berangkat sekolah, sesampai nya di sekolah kebetulan guru tidak masuk, dan untuk menghilangkan penat, sahabat ku memutuskan untuk pergi ke salah satu mall aku pun ikut, kami pun menghabiskan waktu bersama-sama hingga aku lupa dengan Anis.
Setelah selesai kami pun pulang dan Aldi teman ku memilih pulang sendiri tidak bareng dengan kita, sesudahnya di jalan turun hujan yang lumayan deras kendaraan jadi macet, mobil angkot yang aku naiki terjebak macet pula, di dalam mobil ada aku, Ikhwan, dan kami pun asik sendiri dengan canda tawa kami di dalam mobil, lihat kiri kanan jalan ternyata ada Aldi, ya sontak aku langsung membuka kaca mobil dan teriak memanggil Aldi, setelah Aldi melihat ku tanpa belum sempat aku berucap apa apa datang wanita yang selama ini aku tunggu kabarnya sedang berjalan berdua dengan Aldi, ya itu Anis dengan sahabat ku Aldi entah apa yang aku rasakan saat ini, melihat wanita yang sangat aku sayangi, melihat wanita yang aku tunggu kabarnya akhir akhir ini ternyata bersama dengan sahabat ku, Ikhwan dan Hamka pun bingung dengan saat seperti ini, mereka pun kaget dengan apa yang mereka lihat juga, akhirnya aku hanya bisa diam membisu, tetapi aku harus kuat, Hamka dan Ikhwan pun berusaha menenangka! n ku.
Sesampai nya dirumah aku pun merenung tentang apa yang ku rasakan, seperti tidak percaya Aldi sahabat ku teman curhat ku ternyata dengan pacar ku, ku lihat hp ku ternyata ada miscall berkali kali dari Aldi, rasa kesal aku pun tak ingin berbicara dengannya lagi, kemudian aku pun tertidur, saat aku terbangun ternyata hari sudah malam saat aku lihat hp ku ada sms dari Anis, aku menebaknya bahwa ini pesan permintaan maafnya tapi ternyata..
“Des maaf ya, aku lebih nyaman sama Aldi dibanding kamu, maaf aku harap kamu bisa mengerti”
Gak salah ini pesan yang Anis kirim untuk ku entah dia tidak punya perasaan atau gimana tega seperti ini, malam ini malam sedih ku dimana orang yang selama ini aku sayang dan sahabat yang selama ini aku percaya, tega memperlakukan aku seperti ini. Entah masih pantas kah aku menganggapnya jadi orang yang berarti untuku?


Cerpen Karangan : Muhamad Syarif Desni Kusban
Cinta Pertama

Cinta Pertama

 Cerpen Karangan : Enggar Widianingrum

Fattan adalah seorang pemuda dari keluarga sederhana, berparas tampan dan lemah lembut. Dia berhasil memasuki sekolah tingkat atas yang tergolong elite dengan beasiswa. Kini Dia duduk di kelas 2 SMA jurusan IPA bersama teman dekatnya yaitu Oka seorang pemuda dari keluarga ekonomi menengah atas. Kelas 2 melukiskan warna dalam hidupnya karena di masa inilah cerita cinta pertama menghampiri lembaran hari-hari yang Dia lewati.

Awalnya Fattan tak menduga merasakan hal yang teman-teman seumurannya rasakan apalagi kalau bukan cinta, perasaan yang pertama kali Dia rasakan dalam hidupnya. Pertemuan dengan Dinda, anak terpopuler serta primadona di sekolah telah membuat hidupnya berwarna.

Perkenalannya dengan Dinda bermula saat pelajaran olah raga lari jarak jauh yang berjarak ± 10 KM melewati rute yang sudah ditentukan guru olah raga. Saat itu, Dia berlari jauh dari ketiga temannya seperti Oka, Efri dan Dino.
Tak disangka di tengah-tengah perjalanan Dia dikejutkan dengan suara teman satu kelasnya Dinda yang berteriak meminta tolong. Dia menghampiri Dinda yang terjatuh karena terserempet mobil Kijang Innova berkecepatan tinggi. Melihat itu, Dia mencoba mencari pertolongan.
“tolong… tolong!” teriak Fattan panik.

Orang-orang di sekitar tempat kejadian menghampiri Mereka dan mencarikan kendaraan untuk mengantar mereka ke sekolah. Fattan dan Dinda menaiki mobil pick up milik warga untuk kembali ke sekolah mereka.

Sesampainya di sekolah, Pak Beno guru olah raga beserta teman lainnya membawa Dinda ke UKS karena luka yang diderita tak begitu parah hanya lecet-lecet saja. Setelah luka Dinda selesai diobati, Fattan meminta izin untuk meninggalkannya di UKS. Dia merasa canggung berada di sekitar cewek-cewek populer.
“Din.. gue keluar dulu ya? Mau ganti pakaian, gue harap Lu bisa cepet sembuh” ucap Fattan gugup sebelum meninggalkan Dinda.
“iya nggak apa-apa kok. thanks ya, tadi dah nolongin gue.” Balas Dinda seraya tersenyum menatap Fattan.
Mendengar itu, teman-teman Dinda meledeknya dengan berbagai kata salah satunya yang selalu Dia ingat.
“ciye… ciye… perhatian banget sich? Jangan-jangan ada cinta dalam hati. Siapa tahu kalian berdua bisa pacaran kan cinta datang dari mana saja dan kapan saja” ledek Septi teman dekat Dinda yang merupakan bagian dari genk populer.
“Lu, bisa aja Sep. Kan gue Cuma nolongin Dinda aja, masa iya sampe segitunya.” Kata Fattan tersipu malu mendengarnya.
“iya nih, Septi lebay banget.” Balas Dinda.
“gue nggak lebay kok, emang bener dari tatap mata kalian ada yang aneh. Seperti ada rahasia rasa yang tersimpan.” Ucap Septi meyakinkan Fattan dan Dinda.
“udah… udah, nggak usah ngaco lagi Sep, kasihan tuh Fattan yang nggak jadi keluar-keluar.” Sahut Ikhda yang sedang asik memainkan handphonenya.

Semenjak kejadian itu, Dinda sering mengajak Fattan bermain ke rumahnya dan selalu berkomunikasi baik melalui handphone atau jejaring sosial lainnya. Kedekatan inilah yang membawa Fattan merasakan perasaan yang selayaknya anak muda rasakan apalagi kalau bukan cinta. Dia mulai merasakan hal yang berbeda dalam diri dan hatinya bahkan tiap detik bayangan Dinda hadir menghantuinya.
“kenapa ya? Kalau dideket Dinda, gue selalu ngrasa ada yang mengganjal, apa ini yang dibilang cinta” gerutunya dalam hati sambil berbaring di tempat tidur.
“oh inikah cinta, rasanya cinta terasa bahagia saat jumpa dengan dirinya.” Spontan Fattan menyanyikan sedikit lirik lagu.

Suatu pagi Fattan menemui Oka, Dia berniat curhat tentang perasaan yang semakin hari makin menyiksa diri. Ditemuinya Oka di ruang perpustakaan, disana Fattan memulai ceritanya dari awal sampai akhir.
Tanpa diduga ternyata Oka memberi semangat serta meyakinkan Fattan agar Dia berani mengungkapkan itu semua pada Dinda. Akhirnya Fattan memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Dinda di lapangan basket setelah pulang ekstrakurikuler.

Fattan mengirimkan pesan singkat melalui HP ke Dinda yang berisi Dia ingin bertemu dengannya nanti sore di lapangan basket sepulang ekstrakurikuler. Tak terasa waktu yang dinanti pun tiba, pikiran Fattan menjadi kacau balau jantungnya berdegub tak beraturan menanti kedatangan Dinda. Dia dikejutkan suara lembut dari belakangnya yaitu suara Dinda.
“bengong aja. Maaf, lama tadi ada urusan bentar. Btw Lu mau ngomong apa sich? Kelihatannya serius banget?” sapa Dinda berdiri di dekatnya.
“ya gak apa-apa telat bentar ini. Gue emang mau ngomong serius bahkan lebih dari serius” ucap Fattan sedikit bergurau.
“ya udah ngomong aja gue dengerin kok” balas dinda jadi penasaran.
Spontan Fattan memegang tangan Dinda, Dia mulai mengatur nafas untuk memulai pembicaraannya.
“Din… gue mungkin salah memiliki rasa ini dan gue bukanlah sosok sempurna seperti yang Lu inginkan tapi rasa ini bila dipendam semakin menyiksa diri. Hari ini disini gue mau jujur tentang perasaan ini. Lu, mau nggak jadi penguasa hati gue sekaligus pacar pertama?” ungkap Fattan penuh kesungguhan dan harap cintanya bisa terbalas.
“Tan… cinta itu terlahir untuk siapa saja tanpa kecuali. Cinta mengalir tanpa kita duga. Jujur selama ini gue juga memendam rasa yang sama buat Lu. gue juga ingin Lu jadi pacar pertamaku” ungkap dinda berseri-seri.

Sejak saat itu, Fattan dan Dinda resmi berpacaran namun hubungan mereka berjalan rahasia (back Street) tanpa ada satu pun orangtua mereka tahu.

Hari terus berganti, kisah demi kisah terangkai mengisi perjalanan cinta mereka. Hubungan cinta mereka telah berjalan 8 bulan sampai akhirnya mereka naik kelas 3 SMA.

Kelas 3 SMA, masa yang perlu kekonsentrasian menuju Ujian Nasional dan di masa inilah cinta Fattan mendapat badai dari orang ke tiga serta ke dua orangtua Dinda. Pertemuan Dinda dengan siswa baru yang bernama Bagus yang ternyata teman SMP-nya membuat kisah cintanya dengan Fattan di ambang pintu kehancuran.

Bagus siswa baru yang ternyata menyimpan perasaan pada Dinda mencoba menghancurkan hubungan cintanya dengan Fattan. Bagus merasa dirinya lebih pantas menjadi pacar Dinda dibandingkan Fattan.
Sepulang sekolah ketika Fattan dan Dinda sedang asyik mengobrol tiba-tiba Bagus menghampiri mereka.
“kelihatannya lagi asyik nih. Kenalin nama gue bagus anak kelas 3 IPS 2, gue temen SMP Dinda. Kebetulan rumah gue ama Dinda berdekatan. Kalau gue boleh tahu Lu siapanya Dinda?” seraya mengulurkan tangan.
“gue Fattan pacarnya Dinda” menyambut uluran tangan Bagus.
“oh… Lu cowoknya Dinda.” Jawab Bagus ketus. Rasanya tak percaya Dinda bisa jatuh hati pada cowok yang tak sederajat dengannya.
Mendengar itu, hati Bagus seperti tercabik-cabik, sirna sudah harapan bisa bersama Dinda sosok yang sejak dulu Dia impikan. Merasa tak bisa menerima kenyataan Bagus meninggalkan Dinda dan Fattan.

Di rumah, Bagus memutar otaknya mencari jalan untuk memisahkan Dinda dengan Fattan. Tanpa disangka terbersit ucapan Om Hendra ayah Dinda yang mengatakan anaknya belum memiliki pacar, Bagus berpikir kalau hubungan Dinda dan Fattan berjalan backstreet dan berencana membongkar itu semua.

Sore itu, Bagus menemui Ayah Dinda di rumahnya. Kebetulan sore itu Dinda belum pulang sekolah. Kesempatan ini tak disia-siakan Bagus untuk membongkar hubungan Dinda dan Fattan dengan harapan cintanya bisa terbalas.
“selamat sore om, maaf ganggu waktu om” sapa Bagus dengan sopan.
“santai saja Gus, kebetulan om juga nggak sibuk. Oh ya, ada apa? Mau mencari Dinda ya?” jawab Om Hendra seraya meledek Bagus
“om ini bisa saja, saya tidak mencari Dinda Om, tapi saya mau bercerita sesuatu yang pasti om kaget mendengarnya”
“sesuatu? Apa maksudmu Gus?” bertanya-tanya.
“begini om, om pasti belum tahu kalau anak om yang bernama Dinda sudah memikili pacar”
“pacar? Ah.. kamu pasti bercanda Gus. Kalau kamu memang benar, sejak kapan Dinda berpacaran dan siapa pacarnya?”
“sampai detik ini sudah 10 bulan lah om, pacarnya bernama Fattan, dia tergolong siswa dari golongan bawah di sekolah kami” cerita Bagus dengan penuh antusias.
“apa? Dinda pacaran? Berani sekali Dia membohongi ayahnya sendiri.” Kata Om Hendra kesal mendengarnya.
Om Hendra merasa tak percaya kalau anak kesayangannya tega membohonginya. Melihat ekspresi Om Hendra, Bagus merasa puas Dia pamit pulang karena takut Dinda mengetahui aksinya.

Malam itu ketika semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah, Om Hendra memulai pembicaraannya. Dia mengutarakan rasa kecewanya pada Dinda dan meminta Dinda untuk menyudahi hubungannya dengan Fattan jika tidak Dia akan dipindah sekolah.

Keesokan harinya, Dinda mengajak Fattan ke taman sekolah disana Dia menceritakan semua perkataan ayahnya. Teriris hati rasanya mendengar itu semua. Sambil mengusap air matanya, Fattan mencoba menegarkan hatinya.
“sudah, mungkin apa yang dibilang ayahmu memang benar. Kita masih muda cinta kita mereka pandang cinta monyet dan status sosial kita jauh berbeda, mungkin ayahmu ingin yang terbaik untukmu. Aku bisa terima itu” kata Fattan menegarkan hati yang mulai teriris perih.
“lalu kamu memilih untuk menyudahi ini semua? Semudah itukah Tan? Apa kamu tak berfikir untuk memperjuangkan cinta kita?” balas Dinda kecewa dengan perkataan Fattan yang seolah-olah tak memperdulikannya.
“takkan mudah melupakan apa yang sudah kita lalui. Tapi mungkinkah ayahmu mau menerima keadaanku?” ucap Fattan pasrah, ekspresinya berubah dingin.
“apa salahnya kamu mencoba bicara baik-baik dengan ayahku meski akhirnya tak seperti yang kita inginkan” kata Dinda mendesak Fattan yang terlihat pasrah menerima semua ini.
“oke kalo itu mau kamu, aku akan coba lakuin itu.” balas Fattan menenangkan hati Dinda.

Sepulang sekolah, Fattan memberanikan diri mengunjungi rumah Dinda, Dia bermaksud menemui Ayah Dinda untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi. Sesampainya disana Fattan tidak mendapat perlakuan yang menyenangkan dari Om Hendra.
Pembicaraannya dengan Om Hendra tak membuahkan hasil yang baik, Om Hendra tetap teguh pada pendiriaannya dan meminta Fattan tidak melanjutkan hubungannya, alasannya memang bukan materi tapi usia mereka yang belum sepantasnya berpacaran. Entah apa maksud yang disembunyikan Om Hendra mungkin ini cara yang halus untuk meminta Fattan putus dengan anaknya.

Singkat cerita, keesokan harinya Fattan menemui Dinda di taman kota, mereka sudah berjanji akan bertemu disana. Perasaan Fattan menjadi biru waktu itu, Dia tak menyangka cinta pertamanya akan kandas seperti ini.
Di bangku taman, Fattan dan Dinda saling berhadapan dengan perasaan sedih dan tak menentu bercampur menjadi satu. Setelah menarik nafas panjang Fattan memulai pembicaraannya.
“Din… apa yang dikatakan ayahmu benar, kita masih muda mungkin belum saatnya kita menjalin cinta yang sebenarnya apalagi kita sudah beranjak kelas 3, kita harus mementingkan sekolah. Mungkin hubungan kita memang harus diakhiri tapi yakinlah jika kita memang berjodoh tentu kita akan dipertemukan kembali di lain hari nanti” ucap Fattan merendah seraya menatap tajam Dinda yang tak kuasa menahan air matanya.
“Tan… memang masa depan kita masih panjang tak mungkin kita hancurkan masa depan itu dengan masalah yang mungkin bisa menggangu kita di sekolah. Meski sebenarnya aku belum bisa menerima kenyataan ini, tapi aku juga nggak mau jadi anak durhaka, aku terima keputusanmu tuk mengakhiri hubungan ini. Mungkin suatu hari nanti kita bisa bersatu kembali” jawab Dinda terisak-isak menahan pilu.

Setelah peristiwa itu, hubungan Fattan dan Dinda hanya sebatas teman biasa. Mereka tak menyimpan rasa sedih yang berkepanjangan dan menjalani hari-hari mereka seperti biasa. Usaha Bagus untuk mengambil hati Dinda pun sia-sia karena Dia telah menutup pintu hatinya.
Suatu pagi, saat Bagus dan Dinda berangkat bersama ke sekolah. Bagus mencoba-coba mencari jalan untuk mengambil hati Dinda.
“Din… Lu nggak ada niat cari cowok baru lagi? Lagian mau sampe kapan Lu menjomblo? Gue juga mau jadi pengganti Fattan di hati Lu kok” rayu Bagus dengan lemah lembut.
“nggak ah, Gus. Gue mau konsen ke ujian aja, gue juga belum ada niat cari cowok baru, makasih buat tawaran Lu, tapi gue belum tertarik” pergi meninggalkan Bagus.
“ah.. sial. kenapa sih Lu nggak pernah bisa lupain Fattan? Apa coba yang menarik dari Dia” gerutu Bagus sendiri dengan rasa kecewa mendengar jawaban Dinda yang menolaknya.

Sejak saat itu pula Dinda maupun Fattan tak terlihat memiliki pasangan, mereka menjomblo hingga lulus SMA. Dalam hati mereka masih menyimpan rasa yang dulu pernah ada serta harapan bisa bersama lagi di lain hari.
Back To Top